Oleh: KH. Bachtiar Nasir, Lc., M.M.
Bismillahirrahmanirrahim.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah mempertemukan saya dengan para orang tua hebat di SD Tadabbur Quran (SDTQ) AQL Islamic School Jonggol pada Sabtu, 23 Agustus 2025. Pertemuan ini begitu bermakna, karena kita membicarakan sesuatu yang paling mulia: masa depan anak-anak kita sebagai generasi Qurani.
Saya selalu meyakini, pendidikan sejati dimulai dari rumah. Sekolah hanyalah mitra, tempat memperkuat fondasi yang sudah dibangun oleh orang tua. Anak adalah cerminan kita. Jika kita ingin mereka berakhlak mulia, kita sendiri yang harus lebih dulu menjadi teladan. Jangan berharap anak-anak tumbuh disiplin bila rumah penuh kekacauan. Jangan berharap anak-anak dekat dengan Allah jika kita sendiri jarang menyebut nama-Nya di rumah.
Bermain dan Berlomba: Jalan Masuk Hati Anak-anak
Anak-anak usia sekolah dasar memiliki dunia yang unik: dunia bermain dan berlomba. Mereka belajar melalui keceriaan, bukan tekanan. Itulah mengapa saya selalu menyarankan kepada orang tua dan guru: masuklah lewat dua pintu ini.
Saya melihat sendiri bagaimana permainan sederhana seperti “Naik Kereta Api” mampu membuat anak-anak tertawa, bergerak, berpikir, dan bekerja sama. Mereka lupa gadget-nya, lupa gangguan lainnya, tapi belajar tentang kepemimpinan, strategi, dan kebersamaan. Itulah pendidikan yang sesungguhnya: belajar tanpa merasa sedang belajar.
Mengajarkan Al-Qur’an dengan Cinta, Bukan Paksaan
Mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak bukanlah sekadar mengejar target hafalan. Yang lebih penting adalah menanamkan cinta pada Al-Qur’an. Sebelum mereka diminta membaca atau menghafal, mereka harus tahu apa itu Al-Qur’an, mengapa ia mulia, dan mengapa kita mencintainya.
Pendekatan yang saya tekankan adalah ramah, kreatif, dan konsisten. Jadikan mengaji sebagai aktivitas yang ditunggu, bukan beban. Sertai dengan lomba, permainan, dan apresiasi. Ingat, anak-anak belajar bukan hanya dengan telinga, tetapi dengan hati.
Sinergi Orang Tua dan Sekolah: Kunci Pendidikan Qurani
SDTQ AQLIS di Jonggol adalah contoh bagaimana sekolah dan orang tua bisa bersinergi luar biasa. Guru-guru di sini adalah para pejuang, bukan sekadar pencari nafkah. Mereka bekerja dengan idealisme dan visi dakwah, membentuk akhlak, bukan sekadar memberi ilmu.
Namun, sekolah sehebat apapun tak akan berhasil tanpa dukungan orang tua. Kita harus saling menguatkan. Mari kita hadirkan rumah yang mendukung, sekolah yang membimbing, dan lingkungan yang menyemangati. Pendidikan anak adalah kerja bersama, bukan kerja satu pihak.
Visi Kita: Dari Jonggol untuk Peradaban Islam
Saya percaya, Jonggol bukan hanya kampung kecil di peta Indonesia. Dari tempat inilah kita bisa melahirkan generasi pemimpin, kader dakwah, dan pejuang peradaban Islam. Anak-anak kita harus tumbuh dengan visi besar:
“Allah tujuan kami, Rasulullah teladan kami, Al-Qur’an pedoman hidup kami, jihad jalan juang kami, mati di jalan Allah cita-cita tertinggi kami.”
Inilah yang saya impikan: anak-anak yang hidupnya mulia, dan jika harus mati, mati dengan cara yang mulia. Pendidikan anak adalah investasi terbesar untuk dunia dan akhirat. Mari kita bersungguh-sungguh mempersiapkan mereka – karena masa depan Islam, masa depan bangsa, dan masa depan peradaban ada di pundak mereka.
Wallahu a’lam bishshawab.